
Cara Screening 100+ CV dalam Waktu Kurang dari Sejam (Tanpa Kehilangan Kandidat Terbaik)
Dilema Rekruter: Kecepatan vs. Kualitas
Posting lowongan hari ini, kemungkinan besar kamu sudah dapat 200+ lamaran di akhir minggu. Untuk posisi yang kompetitif, angkanya bisa mencapai 500+.
Matematikanya nggak masuk akal. Kalau kamu habiskan cuma 3 menit per CV, screening 200 kandidat butuh 10 jam. Dan itu sebelum interview, assessment, atau evaluasi apapun.
Jadi apa yang terjadi? Proses dipotong. Kandidat bagus terlewat. Hiring jadi lebih lama dari seharusnya—atau lebih buruk, kamu buat keputusan terburu-buru yang merugikan nanti.
Di While True Lab, kami membangun tools rekrutmen yang menangani masalah persis ini. Ini framework yang kami kembangkan untuk screening dalam skala besar tanpa kehilangan kualitas—dengan contoh spesifik yang bisa kamu adaptasi untuk posisi apapun.
Yang Perlu Kamu Siapkan
Job posting yang sebenarnya (bukan cuma job title)
Akses ke ATS (Greenhouse, Lever, Workday, Kalibrr, Glints, dll.)
Spreadsheet atau tool untuk rubrik penilaian
45-60 menit waktu fokus tanpa gangguan
Kesepakatan dari hiring manager soal apa arti "qualified" sebenarnya
Step 1: Tentukan Non-Negotiables dengan Spesifik
Sebelum lihat satu CV pun, pastikan kamu sudah jelas apa yang benar-benar penting. Persyaratan samar seperti "komunikasi yang baik" nggak berguna untuk screening—kamu nggak bisa menilai itu dari CV.
Latihan ini: Duduk bersama hiring manager selama 15 menit dan paksa mereka menjawab pertanyaan ini:
"Kalau kandidat punya segalanya kecuali [X], apakah tetap mau interview?" (Kalau ya, X bukan must-have)
"Apa yang dimiliki hire sukses terakhir di posisi ini yang bikin mereka berhasil?"
"Berapa level pengalaman minimum yang masih bisa dikasih kesempatan?"
"Ada perusahaan, industri, atau background tertentu yang biasanya menghasilkan kandidat bagus untuk kita?"
Contoh nyata — Senior Backend Engineer di fintech Series B:
Wajib Punya (Langsung Tolak Jika Tidak Ada) | Sinyal Kuat (Prioritaskan Ini) | Nilai Tambah (Tiebreaker Saja) |
|---|---|---|
4+ tahun backend development (bukan split full-stack) | Pengalaman di startup high-growth (50-500 karyawan) | Kontribusi open source |
Pengalaman production dengan Python atau Go | Pernah membangun sistem payment atau finansial | Gelar CS dari program ternama |
Pernah bekerja dengan PostgreSQL atau RDBMS serupa dalam skala besar | Pengalaman dengan event-driven architecture (Kafka, RabbitMQ) | Pengalaman fintech sebelumnya |
Izin kerja yang valid (tidak bisa sponsorship) | Track record memiliki ownership end-to-end atas services | Pengalaman remote-first |
Contoh nyata — Marketing Manager di perusahaan B2B SaaS:
Wajib Punya | Sinyal Kuat | Nilai Tambah |
|---|---|---|
5+ tahun di B2B marketing (bukan B2C) | Pernah own target demand gen atau pipeline | Gelar marketing atau sertifikasi |
Pengalaman dengan marketing automation (HubSpot, Marketo, Pardot) | Track record improvement 2x+ di metrik kunci | Pengalaman agency + in-house |
Pernah manage paid campaigns dengan budget Rp500jt+/bulan | Pengalaman marketing ke technical buyers (developer, IT) | Pengalaman di stage perusahaan serupa |
Portfolio atau contoh campaign sebelumnya | Pernah hire atau manage minimal 1 direct report | Industry-specific knowledge |
Kenapa level detail ini penting: "5+ tahun pengalaman marketing" cocok dengan ribuan kandidat. "5+ tahun B2B marketing dengan pengalaman hands-on HubSpot dan ownership paid budget Rp500jt+" cocok dengan puluhan saja. Semakin spesifik kriteriamu, semakin cepat kamu bisa screening.
Step 2: Bangun Rubrik Scoring yang Benar-Benar Akan Dipakai
Rubrik bukan birokrasi—ini shortcut pengambilan keputusan. Saat kamu sudah di CV ke-73, kamu nggak akan ingat apa yang dicari. Rubrik yang ingat.
Format yang works: Skor setiap must-have sebagai 0/1/2, lalu tambah bonus points untuk sinyal kuat.
Rubrik nyata — Senior Backend Engineer:
Kriteria | 0 Poin | 1 Poin | 2 Poin |
|---|---|---|---|
Tahun pengalaman backend | <3 tahun atau kebanyakan full-stack | 3-4 tahun dedicated backend | 5+ tahun dedicated backend |
Kemahiran Python/Go | Tidak disebut atau penggunaan minor | Listed sebagai salah satu dari beberapa bahasa | Bahasa utama, multiple projects |
Pengalaman database | Tidak ada pengalaman SQL | Pakai PostgreSQL/MySQL di projects | Own arsitektur database atau optimisasi |
Skala sistem | Project kecil atau tidak jelas | Bekerja di sistem dengan traffic moderate | Pengalaman dengan high-throughput systems (mention QPS, latency, scaling) |
Izin kerja | Butuh sponsorship | Tidak jelas dari CV | Jelas eligible (WNI atau sudah ada izin) |
Bonus points (tambahkan ke total):
+2: Pengalaman fintech atau payments sebelumnya
+2: Pernah membangun event-driven systems (Kafka, dll.)
+1: Pengalaman startup (50-500 karyawan)
+1: Bukti ownership ("Saya membangun," "Saya memimpin," "Saya mendesain" vs. "bekerja di," "membantu")
Threshold scoring:
8+ poin: Langsung phone screen
5-7 poin: Review detail, mungkin phone screen
3-4 poin: Hold untuk nanti kalau pipeline tipis
0-2 poin: Tolak
Rubrik nyata — Marketing Manager:
Kriteria | 0 Poin | 1 Poin | 2 Poin |
|---|---|---|---|
Pengalaman B2B | B2C saja atau tidak jelas | Ada B2B, campur dengan B2C | Primarily B2B, idealnya SaaS |
Marketing automation | Tidak disebut | Pernah pakai tools, kedalaman tidak jelas | Certified atau pernah build complex workflows |
Ownership budget | Tidak ada pengalaman paid media | Manage campaigns, budget tidak jelas | Angka budget jelas (Rp500jt+/bulan) |
Orientasi metrik | Tidak ada angka di CV | Beberapa metrik disebut | Hasil spesifik terkait aksi mereka |
Contoh campaign | Tidak ada portfolio | Deskripsi generik | Campaign spesifik dengan hasil terukur |
Bonus points:
+2: Pernah marketing ke developer atau technical buyers
+2: Pernah hire dan manage tim
+1: Pengalaman di stage perusahaan serupa (Series A-C)
+1: Pengalaman agency dan in-house
Step 3: 30-Second Scan — Apa yang Dicari (Dan Di Mana)
First pass adalah soal eliminasi, bukan seleksi. Kamu mencari alasan untuk bilang tidak dengan cepat supaya bisa habiskan lebih banyak waktu untuk kandidat kuat.
Di mana melihat dalam 30 detik:
Bagian | Yang Kamu Cek | Waktu |
|---|---|---|
Title saat ini/terbaru | Apakah level seniority cocok? Apakah fungsinya benar? | 5 detik |
Perusahaan saat ini | Recognizable? Stage/industri serupa? | 3 detik |
Tanggal employment | Pola tenure, gap, progres | 5 detik |
Bagian skills atau summary | Keyword must-have ada? | 7 detik |
Posisi terbaru kedua | Konfirmasi trajectory karir | 5 detik |
Baris lokasi | Sinyal izin kerja | 3 detik |
Quick scroll untuk red flags | Formatting berantakan, mismatch jelas | 2 detik |
Green flags spesifik yang harus ditangkap:
Progres title: Associate → Manager → Senior Manager menunjukkan growth
Perusahaan recognizable: Bukan cuma nama besar—perusahaan yang dikenal untuk talent kuat di fungsi kamu (contoh: Gojek, Tokopedia untuk engineering; Ruangguru, Tiket untuk growth marketing)
Pencapaian terkuantifikasi di bullet pertama: Menunjukkan kandidat tahu apa yang penting
Tech stack cocok di skills section: Persis tools yang kamu pakai, bukan yang berdekatan saja
Tenure 2-4 tahun: Cukup lama untuk impact, cukup pendek untuk menunjukkan ambisi
Red flags spesifik yang harus ditangkap:
Job hopping tanpa progres: 4 pekerjaan dalam 4 tahun semua di level sama suggests masalah performa
Title samar di perusahaan tidak dikenal: "Growth Lead" di "Stealth Startup" tidak memberikan informasi apapun
Cuma listing tanggung jawab, bukan pencapaian: "Mengelola media sosial" vs. "Meningkatkan social following 300% dalam 6 bulan"
Skills mismatch: List 25 bahasa pemrograman di level surface = master of none
Overqualified: VP melamar posisi Manager tanpa penjelasan suggests desperation atau salah paham
Formatting CV berantakan: Kalau mereka nggak bisa format dokumen, mereka akan struggle dengan pekerjaan client-facing
Gap 2+ tahun tanpa penjelasan: Tidak otomatis disqualify, tapi butuh penjelasan di tahap selanjutnya
Location mismatch: Based di kota/negara berbeda untuk posisi yang jelas in-office
Decision tree 30 detik:
1. Cek title saat ini → Fungsi salah? → TOLAK
2. Cek tahun pengalaman → Di bawah minimum? → TOLAK
3. Scan untuk must-have skills → Kurang skill kritis? → TOLAK
4. Cek izin kerja → Tidak eligible? → TOLAK
5. Ada red flag jelas? → Multiple red flags? → TOLAK
6. Tidak ada yang di atas? → LANJUT ke review detail
Step 4: Batch Processing — Sistem yang Sebenarnya
Context-switching membunuh efisiensi screening. Setiap kali kamu cek Slack atau email, kamu kehilangan 5-10 menit fokus.
Sistem batch yang works:
Block 1 (25 menit): First-pass screening
Set timer 25 menit
Target: Screen 50 CV (30 detik masing-masing)
Sortir ke folder: Yes / No / Maybe di ATS
Belum ada notes, cuma sorting
Hasil rata-rata: 35-40 No, 5-10 Yes, 5-10 Maybe
Block 2 (5 menit): Istirahat
Berdiri, jalan-jalan, jangan cek email
Biarkan otak reset
Block 3 (25 menit): Review detail pile Yes
Habiskan 2-3 menit per CV
Scoring pakai rubrik
Tambah notes: "Python kuat, background Gojek, owns systems"
Tandai pertanyaan spesifik untuk phone screen
Ranking dari terkuat ke terlemah
Block 4 (5 menit): Istirahat
Block 5 (15 menit): Revisit pile Maybe
Dengan mata segar, terapkan rubrik lebih teliti
Kebanyakan Maybe jadi No atau Yes lemah
Jangan biarkan Maybe menggantung—putuskan sekarang
Output realistis dari 1 jam:
100 CV di-screening
70-80 ditolak
10-15 lanjut ke phone screen
5-10 di kategori "revisit kalau pipeline tipis"
Shortcut ATS yang harus dipelajari:
Kebanyakan sistem ATS punya keyboard shortcuts yang menghemat waktu besar:
Aksi | Greenhouse | Lever | Kalibrr/Glints |
|---|---|---|---|
Tolak | R | X | Varies |
Lanjutkan | A | → | Varies |
Tambah note | N | C | Varies |
Kandidat berikutnya | J atau ↓ | ↓ | Varies |
Kandidat sebelumnya | K atau ↑ | ↑ | Varies |
Habiskan 10 menit untuk belajar shortcut ATS-mu. Akan menghemat jam-jam kerja seiring waktu.
Step 5: Pakai Teknologi sebagai First Filter
Sistem ATS dan AI tools bisa handle filtering awal—tapi hanya kalau dikonfigurasi dengan benar.
Knockout questions yang benar-benar works:
Tambahkan ini ke form aplikasi untuk auto-reject kandidat yang nggak qualified:
Pertanyaan | Tujuan | Auto-Reject Jika |
|---|---|---|
"Apakah kamu memiliki izin kerja yang sah di Indonesia?" | Izin kerja | Tidak |
"Posisi ini membutuhkan 5 hari/minggu di kantor [kota]. Apakah kamu bisa berkomitmen?" | Location/remote mismatch | Tidak |
"Berapa tahun pengalaman [skill spesifik] yang kamu miliki?" | Minimum experience | Di bawah threshold |
"Apakah kamu saat ini atau akan segera bekerja di kompetitor langsung?" | Conflict of interest | Ya (untuk beberapa posisi) |
"Berapa range gaji pokok yang kamu harapkan?" | Compensation alignment | Jauh di atas range |
Perhatian: Jangan tambah terlalu banyak knockout questions. Setiap pertanyaan yang ditambah mengurangi completion rate aplikasi sebesar 3-5%.
Keyword filters — gunakan dengan hati-hati:
Kebanyakan sistem ATS memungkinkan filter by keywords. Ini berguna tapi berbahaya.
Filter keyword yang bagus:
Sertifikasi spesifik (AWS Certified, CPA, PMP)
Tools spesifik yang jadi hard requirements (Salesforce, SAP, Figma)
Bahasa pemrograman spesifik untuk posisi teknis
Filter keyword yang buruk:
Skill generik ("komunikasi," "leadership")
Job titles (terlalu banyak variasi cara perusahaan memberi title)
Tahun pengalaman (orang menulisnya berbeda-beda)
Contoh setup filter untuk Senior Backend Engineer:
Required keyword (any): Python OR Go OR Golang
Required keyword (any): PostgreSQL OR MySQL OR "relational database"
Auto-reject: "Mencari internship" OR "fresh graduate" OR "entry level"
Kapan AI screening memberikan value:
AI screening tools seperti Aivident paling berharga ketika:
Kamu punya 100+ pelamar per posisi
Posisinya punya persyaratan yang jelas dan terukur
Kamu hiring untuk multiple posisi serupa secara bersamaan
Tim kamu menghabiskan 10+ jam/minggu untuk first-pass screening
AI screening kurang berharga ketika:
Kamu punya <50 pelamar (review manual saja)
Posisinya highly specialized atau senior (human judgment lebih penting)
Persyaratannya fuzzy atau "you know it when you see it"
Step 6: Membangun Shortlist dengan Dokumentasi
Tujuanmu bukan cuma screening—tapi menyerahkan shortlist yang dipercaya hiring manager.
Yang harus dimasukkan di shortlist:
Untuk setiap kandidat yang lanjut:
Summary line: Satu kalimat kenapa mereka menarik
Skor rubrik: Total poin dan breakdown
Kekuatan: 2-3 hal spesifik yang menonjol
Pertanyaan/concerns: Apa yang harus di-probe di phone screen
Catatan gaji: Kalau mereka memberikan ekspektasi, bagaimana dibanding range
Contoh shortlist nyata — posisi Marketing Manager:
Kandidat | Skor | Summary | Kekuatan | Pertanyaan |
|---|---|---|---|---|
Sarah Chen | 9/10 | B2B SaaS marketer dengan track record demand gen kuat | Grow pipeline 3x di startup stage serupa; HubSpot certified; manage budget Rp600jt/bulan | Kenapa resign setelah 18 bulan? Ekspektasi gaji? |
Budi Santoso | 8/10 | Metrik kuat, background enterprise marketing | ROI metrics jelas di setiap campaign; manage 2 direct reports; expert Marketo | Mostly enterprise—bisa adapt ke mid-market? |
Rina Patel | 7/10 | Karir lebih awal tapi trajectory exceptional | Promoted 2x dalam 2 tahun; build demand gen dari nol di startup; portfolio bagus | Pengalaman lebih sedikit—test strategic thinking di interview |
Apa yang ini enable: Hiring manager bisa langsung lihat kenapa setiap kandidat ada di sana dan apa yang harus difokuskan. Nggak perlu "just trust me."
Step 7: Iterasi Berdasarkan Hasil Nyata
Track apa yang terjadi untuk improve seiring waktu.
Metrik yang harus di-track:
Metrik | Apa yang Diinformasikan | Target |
|---|---|---|
Waktu screening per posisi | Efisiensimu | <2 jam untuk 100 kandidat |
Rate shortlist → Phone screen | Alignment dengan hiring manager | >80% |
Rate phone screen → Onsite | Kualitas shortlist | >40% |
Rate offer accept | Kualitas proses keseluruhan | >70% |
Kualitas source | Dari mana kandidat bagus datang | Varies |
Setelah setiap hire, tanyakan:
Lihat siapa yang kamu tolak di first pass—apakah ada yang mirip dengan final hire? (Kalau ya, rubrikmu mungkin terlalu ketat)
Apakah hiring manager menolak siapapun dari shortlist di ronde pertama? Kenapa? (Sesuaikan rubrik)
Apa kesamaan kandidat terbaik? (Tambahkan ke "sinyal kuat")
Dari mana kandidat terbaik datang? (Double down di source tersebut)
Contoh insight: "Kami notice ketiga finalis untuk posisi engineering terakhir punya kontribusi open source, tapi kami belum memberi bobot untuk itu. Menambahkannya sebagai +2 bonus point."
Kesalahan Umum (Dan Cara Menghindarinya)
Kesalahan 1: Memperlakukan job description sebagai rubrik
Job description adalah dokumen marketing. Dirancang untuk menarik kandidat, bukan screening. Persyaratan sebenarnya biasanya lebih simpel.
Fix: Minta hiring manager untuk meranking persyaratan job description sebagai "wajib punya," "sinyal kuat," dan "nilai tambah." Kamu akan menemukan setengahnya adalah nice-to-have.
Kesalahan 2: Screening untuk culture fit dari CV
Kamu tidak bisa menilai culture fit dari CV. Kamu cuma projecting berdasarkan sekolah, perusahaan, atau gaya penulisan—yang memperkenalkan bias.
Fix: Hapus culture fit dari first-pass screening sepenuhnya. Nilai di interview di mana kamu bisa benar-benar mengevaluasinya.
Kesalahan 3: Membiarkan "maybe" menumpuk
Pile "maybe" yang terus bertambah setiap minggu cuma penolakan yang ditunda. Kandidat-kandidat itu deserve keputusan.
Fix: Paksa dirimu untuk memutuskan maybe dalam 48 jam. Kalau masih ragu, itu berarti no.
Kesalahan 4: Mengoptimasi untuk false positives alih-alih false negatives
Kebanyakan rekruter khawatir soal meloloskan kandidat buruk (false positives). Cost yang lebih besar adalah menolak kandidat bagus (false negatives)—kamu nggak akan pernah tahu apa yang terlewat.
Fix: Kalau ragu, loloskan. Phone screen 20 menit itu murah. Kehilangan hire hebat itu mahal.
Kesalahan 5: Tidak mengkomunikasikan penolakan
Kandidat yang nggak pernah dapat kabar memberitahu network mereka. Employer brand-mu menderita.
Fix: Kirim penolakan dalam 2 minggu. Bahkan email template lebih baik dari diam.
Siap Screening Lebih Cepat Tanpa Kerja Manual?
Framework ini works. Tapi bahkan dengan proses sempurna, kamu masih menghabiskan jam-jam untuk first-pass screening yang bisa diotomasi.
Aivident menggunakan AI untuk mencocokkan kandidat dengan persyaratan posisimu, meranking pelamar berdasarkan kecocokan, dan memunculkan kandidat terkuat secara instan. Kamu tetap yang membuat keputusan—tapi kamu mulai dengan shortlist yang lebih cerdas.
Rekruter yang menggunakan Aivident melaporkan:
Pengurangan 70% waktu first-pass screening
Conversion rate shortlist-to-interview lebih tinggi
Lebih sedikit momen "bagaimana kita bisa melewatkan orang ini?"
FAQ
Q: Bagaimana kalau hiring manager terus mengubah persyaratan di tengah pencarian?
A: Ini umum dan frustrating. Push back dengan menunjukkan data: "Kita sudah screening 150 kandidat berdasarkan persyaratan awal dan punya 8 yang kuat. Kalau kita ubah persyaratan sekarang, kita mulai dari awal." Kalau mereka tetap memaksa, dapatkan persyaratan baru secara tertulis dan sesuaikan rubrik—tapi dokumentasikan bahwa timeline akan mundur.
Q: Bagaimana cara screening untuk posisi yang nggak aku pahami secara teknis?
A: Partner dengan seseorang yang paham. Untuk posisi teknis, minta engineer menghabiskan 30 menit mengajarimu apa yang harus dicari dan apa yang BS. Tanyakan: "Kalau kamu lihat dua CV ini, mana yang akan kamu interview duluan? Kenapa?" Jawaban mereka jadi bagian dari rubrikmu.
Q: Haruskah aku screening CV sesuai urutan masuk?
A: Tidak harus. Beberapa rekruter screening yang terbaru dulu (pelamar paling recent masih aktif mencari). Yang lain mengacak untuk mengurangi bias. Hindari urutan terlama dulu—kandidat itu sudah menunggu paling lama dan mungkin sudah menerima offer lain.
Q: Bagaimana menangani referral internal saat screening?
A: Referral tetap harus melalui rubrikmu, tapi kamu bisa menambah +1 atau +2 bonus untuk referral kuat. Jangan auto-advance referral—itu merusak prosesmu dan memfrustasikan kandidat yang melamar langsung.
Q: Berapa ukuran shortlist yang tepat?
A: Untuk kebanyakan posisi, 10-15% dari pelamar atau 8-12 kandidat, mana yang lebih kecil. Lebih dari 15 phone screen untuk satu posisi menunjukkan top-of-funnel-mu terlalu lebar atau rubrikmu tidak cukup selektif.