[POST-01]
Cara Screening 100+ CV dalam Waktu Kurang dari Sejam (Tanpa Kehilangan Kandidat Terbaik)

Cara Screening 100+ CV dalam Waktu Kurang dari Sejam (Tanpa Kehilangan Kandidat Terbaik)

15 Januari 2026
12 menit baca

Dilema Rekruter: Kecepatan vs. Kualitas

Posting lowongan hari ini, kemungkinan besar kamu sudah dapat 200+ lamaran di akhir minggu. Untuk posisi yang kompetitif, angkanya bisa mencapai 500+.

Matematikanya nggak masuk akal. Kalau kamu habiskan cuma 3 menit per CV, screening 200 kandidat butuh 10 jam. Dan itu sebelum interview, assessment, atau evaluasi apapun.

Jadi apa yang terjadi? Proses dipotong. Kandidat bagus terlewat. Hiring jadi lebih lama dari seharusnya—atau lebih buruk, kamu buat keputusan terburu-buru yang merugikan nanti.

Di While True Lab, kami membangun tools rekrutmen yang menangani masalah persis ini. Ini framework yang kami kembangkan untuk screening dalam skala besar tanpa kehilangan kualitas—dengan contoh spesifik yang bisa kamu adaptasi untuk posisi apapun.


Yang Perlu Kamu Siapkan

  • Job posting yang sebenarnya (bukan cuma job title)

  • Akses ke ATS (Greenhouse, Lever, Workday, Kalibrr, Glints, dll.)

  • Spreadsheet atau tool untuk rubrik penilaian

  • 45-60 menit waktu fokus tanpa gangguan

  • Kesepakatan dari hiring manager soal apa arti "qualified" sebenarnya


Step 1: Tentukan Non-Negotiables dengan Spesifik

Sebelum lihat satu CV pun, pastikan kamu sudah jelas apa yang benar-benar penting. Persyaratan samar seperti "komunikasi yang baik" nggak berguna untuk screening—kamu nggak bisa menilai itu dari CV.

Latihan ini: Duduk bersama hiring manager selama 15 menit dan paksa mereka menjawab pertanyaan ini:

  1. "Kalau kandidat punya segalanya kecuali [X], apakah tetap mau interview?" (Kalau ya, X bukan must-have)

  2. "Apa yang dimiliki hire sukses terakhir di posisi ini yang bikin mereka berhasil?"

  3. "Berapa level pengalaman minimum yang masih bisa dikasih kesempatan?"

  4. "Ada perusahaan, industri, atau background tertentu yang biasanya menghasilkan kandidat bagus untuk kita?"

Contoh nyata — Senior Backend Engineer di fintech Series B:

Wajib Punya (Langsung Tolak Jika Tidak Ada)

Sinyal Kuat (Prioritaskan Ini)

Nilai Tambah (Tiebreaker Saja)

4+ tahun backend development (bukan split full-stack)

Pengalaman di startup high-growth (50-500 karyawan)

Kontribusi open source

Pengalaman production dengan Python atau Go

Pernah membangun sistem payment atau finansial

Gelar CS dari program ternama

Pernah bekerja dengan PostgreSQL atau RDBMS serupa dalam skala besar

Pengalaman dengan event-driven architecture (Kafka, RabbitMQ)

Pengalaman fintech sebelumnya

Izin kerja yang valid (tidak bisa sponsorship)

Track record memiliki ownership end-to-end atas services

Pengalaman remote-first

Contoh nyata — Marketing Manager di perusahaan B2B SaaS:

Wajib Punya

Sinyal Kuat

Nilai Tambah

5+ tahun di B2B marketing (bukan B2C)

Pernah own target demand gen atau pipeline

Gelar marketing atau sertifikasi

Pengalaman dengan marketing automation (HubSpot, Marketo, Pardot)

Track record improvement 2x+ di metrik kunci

Pengalaman agency + in-house

Pernah manage paid campaigns dengan budget Rp500jt+/bulan

Pengalaman marketing ke technical buyers (developer, IT)

Pengalaman di stage perusahaan serupa

Portfolio atau contoh campaign sebelumnya

Pernah hire atau manage minimal 1 direct report

Industry-specific knowledge

Kenapa level detail ini penting: "5+ tahun pengalaman marketing" cocok dengan ribuan kandidat. "5+ tahun B2B marketing dengan pengalaman hands-on HubSpot dan ownership paid budget Rp500jt+" cocok dengan puluhan saja. Semakin spesifik kriteriamu, semakin cepat kamu bisa screening.


Step 2: Bangun Rubrik Scoring yang Benar-Benar Akan Dipakai

Rubrik bukan birokrasi—ini shortcut pengambilan keputusan. Saat kamu sudah di CV ke-73, kamu nggak akan ingat apa yang dicari. Rubrik yang ingat.

Format yang works: Skor setiap must-have sebagai 0/1/2, lalu tambah bonus points untuk sinyal kuat.

Rubrik nyata — Senior Backend Engineer:

Kriteria

0 Poin

1 Poin

2 Poin

Tahun pengalaman backend

<3 tahun atau kebanyakan full-stack

3-4 tahun dedicated backend

5+ tahun dedicated backend

Kemahiran Python/Go

Tidak disebut atau penggunaan minor

Listed sebagai salah satu dari beberapa bahasa

Bahasa utama, multiple projects

Pengalaman database

Tidak ada pengalaman SQL

Pakai PostgreSQL/MySQL di projects

Own arsitektur database atau optimisasi

Skala sistem

Project kecil atau tidak jelas

Bekerja di sistem dengan traffic moderate

Pengalaman dengan high-throughput systems (mention QPS, latency, scaling)

Izin kerja

Butuh sponsorship

Tidak jelas dari CV

Jelas eligible (WNI atau sudah ada izin)

Bonus points (tambahkan ke total):

  • +2: Pengalaman fintech atau payments sebelumnya

  • +2: Pernah membangun event-driven systems (Kafka, dll.)

  • +1: Pengalaman startup (50-500 karyawan)

  • +1: Bukti ownership ("Saya membangun," "Saya memimpin," "Saya mendesain" vs. "bekerja di," "membantu")

Threshold scoring:

  • 8+ poin: Langsung phone screen

  • 5-7 poin: Review detail, mungkin phone screen

  • 3-4 poin: Hold untuk nanti kalau pipeline tipis

  • 0-2 poin: Tolak

Rubrik nyata — Marketing Manager:

Kriteria

0 Poin

1 Poin

2 Poin

Pengalaman B2B

B2C saja atau tidak jelas

Ada B2B, campur dengan B2C

Primarily B2B, idealnya SaaS

Marketing automation

Tidak disebut

Pernah pakai tools, kedalaman tidak jelas

Certified atau pernah build complex workflows

Ownership budget

Tidak ada pengalaman paid media

Manage campaigns, budget tidak jelas

Angka budget jelas (Rp500jt+/bulan)

Orientasi metrik

Tidak ada angka di CV

Beberapa metrik disebut

Hasil spesifik terkait aksi mereka

Contoh campaign

Tidak ada portfolio

Deskripsi generik

Campaign spesifik dengan hasil terukur

Bonus points:

  • +2: Pernah marketing ke developer atau technical buyers

  • +2: Pernah hire dan manage tim

  • +1: Pengalaman di stage perusahaan serupa (Series A-C)

  • +1: Pengalaman agency dan in-house


Step 3: 30-Second Scan — Apa yang Dicari (Dan Di Mana)

First pass adalah soal eliminasi, bukan seleksi. Kamu mencari alasan untuk bilang tidak dengan cepat supaya bisa habiskan lebih banyak waktu untuk kandidat kuat.

Di mana melihat dalam 30 detik:

Bagian

Yang Kamu Cek

Waktu

Title saat ini/terbaru

Apakah level seniority cocok? Apakah fungsinya benar?

5 detik

Perusahaan saat ini

Recognizable? Stage/industri serupa?

3 detik

Tanggal employment

Pola tenure, gap, progres

5 detik

Bagian skills atau summary

Keyword must-have ada?

7 detik

Posisi terbaru kedua

Konfirmasi trajectory karir

5 detik

Baris lokasi

Sinyal izin kerja

3 detik

Quick scroll untuk red flags

Formatting berantakan, mismatch jelas

2 detik

Green flags spesifik yang harus ditangkap:

  • Progres title: Associate → Manager → Senior Manager menunjukkan growth

  • Perusahaan recognizable: Bukan cuma nama besar—perusahaan yang dikenal untuk talent kuat di fungsi kamu (contoh: Gojek, Tokopedia untuk engineering; Ruangguru, Tiket untuk growth marketing)

  • Pencapaian terkuantifikasi di bullet pertama: Menunjukkan kandidat tahu apa yang penting

  • Tech stack cocok di skills section: Persis tools yang kamu pakai, bukan yang berdekatan saja

  • Tenure 2-4 tahun: Cukup lama untuk impact, cukup pendek untuk menunjukkan ambisi

Red flags spesifik yang harus ditangkap:

  • Job hopping tanpa progres: 4 pekerjaan dalam 4 tahun semua di level sama suggests masalah performa

  • Title samar di perusahaan tidak dikenal: "Growth Lead" di "Stealth Startup" tidak memberikan informasi apapun

  • Cuma listing tanggung jawab, bukan pencapaian: "Mengelola media sosial" vs. "Meningkatkan social following 300% dalam 6 bulan"

  • Skills mismatch: List 25 bahasa pemrograman di level surface = master of none

  • Overqualified: VP melamar posisi Manager tanpa penjelasan suggests desperation atau salah paham

  • Formatting CV berantakan: Kalau mereka nggak bisa format dokumen, mereka akan struggle dengan pekerjaan client-facing

  • Gap 2+ tahun tanpa penjelasan: Tidak otomatis disqualify, tapi butuh penjelasan di tahap selanjutnya

  • Location mismatch: Based di kota/negara berbeda untuk posisi yang jelas in-office

Decision tree 30 detik:

1. Cek title saat ini → Fungsi salah? → TOLAK
2. Cek tahun pengalaman → Di bawah minimum? → TOLAK
3. Scan untuk must-have skills → Kurang skill kritis? → TOLAK
4. Cek izin kerja → Tidak eligible? → TOLAK
5. Ada red flag jelas? → Multiple red flags? → TOLAK
6. Tidak ada yang di atas? → LANJUT ke review detail

Step 4: Batch Processing — Sistem yang Sebenarnya

Context-switching membunuh efisiensi screening. Setiap kali kamu cek Slack atau email, kamu kehilangan 5-10 menit fokus.

Sistem batch yang works:

Block 1 (25 menit): First-pass screening

  • Set timer 25 menit

  • Target: Screen 50 CV (30 detik masing-masing)

  • Sortir ke folder: Yes / No / Maybe di ATS

  • Belum ada notes, cuma sorting

  • Hasil rata-rata: 35-40 No, 5-10 Yes, 5-10 Maybe

Block 2 (5 menit): Istirahat

  • Berdiri, jalan-jalan, jangan cek email

  • Biarkan otak reset

Block 3 (25 menit): Review detail pile Yes

  • Habiskan 2-3 menit per CV

  • Scoring pakai rubrik

  • Tambah notes: "Python kuat, background Gojek, owns systems"

  • Tandai pertanyaan spesifik untuk phone screen

  • Ranking dari terkuat ke terlemah

Block 4 (5 menit): Istirahat

Block 5 (15 menit): Revisit pile Maybe

  • Dengan mata segar, terapkan rubrik lebih teliti

  • Kebanyakan Maybe jadi No atau Yes lemah

  • Jangan biarkan Maybe menggantung—putuskan sekarang

Output realistis dari 1 jam:

  • 100 CV di-screening

  • 70-80 ditolak

  • 10-15 lanjut ke phone screen

  • 5-10 di kategori "revisit kalau pipeline tipis"

Shortcut ATS yang harus dipelajari:

Kebanyakan sistem ATS punya keyboard shortcuts yang menghemat waktu besar:

Aksi

Greenhouse

Lever

Kalibrr/Glints

Tolak

R

X

Varies

Lanjutkan

A

Varies

Tambah note

N

C

Varies

Kandidat berikutnya

J atau ↓

Varies

Kandidat sebelumnya

K atau ↑

Varies

Habiskan 10 menit untuk belajar shortcut ATS-mu. Akan menghemat jam-jam kerja seiring waktu.


Step 5: Pakai Teknologi sebagai First Filter

Sistem ATS dan AI tools bisa handle filtering awal—tapi hanya kalau dikonfigurasi dengan benar.

Knockout questions yang benar-benar works:

Tambahkan ini ke form aplikasi untuk auto-reject kandidat yang nggak qualified:

Pertanyaan

Tujuan

Auto-Reject Jika

"Apakah kamu memiliki izin kerja yang sah di Indonesia?"

Izin kerja

Tidak

"Posisi ini membutuhkan 5 hari/minggu di kantor [kota]. Apakah kamu bisa berkomitmen?"

Location/remote mismatch

Tidak

"Berapa tahun pengalaman [skill spesifik] yang kamu miliki?"

Minimum experience

Di bawah threshold

"Apakah kamu saat ini atau akan segera bekerja di kompetitor langsung?"

Conflict of interest

Ya (untuk beberapa posisi)

"Berapa range gaji pokok yang kamu harapkan?"

Compensation alignment

Jauh di atas range

Perhatian: Jangan tambah terlalu banyak knockout questions. Setiap pertanyaan yang ditambah mengurangi completion rate aplikasi sebesar 3-5%.

Keyword filters — gunakan dengan hati-hati:

Kebanyakan sistem ATS memungkinkan filter by keywords. Ini berguna tapi berbahaya.

Filter keyword yang bagus:

  • Sertifikasi spesifik (AWS Certified, CPA, PMP)

  • Tools spesifik yang jadi hard requirements (Salesforce, SAP, Figma)

  • Bahasa pemrograman spesifik untuk posisi teknis

Filter keyword yang buruk:

  • Skill generik ("komunikasi," "leadership")

  • Job titles (terlalu banyak variasi cara perusahaan memberi title)

  • Tahun pengalaman (orang menulisnya berbeda-beda)

Contoh setup filter untuk Senior Backend Engineer:

  • Required keyword (any): Python OR Go OR Golang

  • Required keyword (any): PostgreSQL OR MySQL OR "relational database"

  • Auto-reject: "Mencari internship" OR "fresh graduate" OR "entry level"

Kapan AI screening memberikan value:

AI screening tools seperti Aivident paling berharga ketika:

  • Kamu punya 100+ pelamar per posisi

  • Posisinya punya persyaratan yang jelas dan terukur

  • Kamu hiring untuk multiple posisi serupa secara bersamaan

  • Tim kamu menghabiskan 10+ jam/minggu untuk first-pass screening

AI screening kurang berharga ketika:

  • Kamu punya <50 pelamar (review manual saja)

  • Posisinya highly specialized atau senior (human judgment lebih penting)

  • Persyaratannya fuzzy atau "you know it when you see it"


Step 6: Membangun Shortlist dengan Dokumentasi

Tujuanmu bukan cuma screening—tapi menyerahkan shortlist yang dipercaya hiring manager.

Yang harus dimasukkan di shortlist:

Untuk setiap kandidat yang lanjut:

  1. Summary line: Satu kalimat kenapa mereka menarik

  2. Skor rubrik: Total poin dan breakdown

  3. Kekuatan: 2-3 hal spesifik yang menonjol

  4. Pertanyaan/concerns: Apa yang harus di-probe di phone screen

  5. Catatan gaji: Kalau mereka memberikan ekspektasi, bagaimana dibanding range

Contoh shortlist nyata — posisi Marketing Manager:

Kandidat

Skor

Summary

Kekuatan

Pertanyaan

Sarah Chen

9/10

B2B SaaS marketer dengan track record demand gen kuat

Grow pipeline 3x di startup stage serupa; HubSpot certified; manage budget Rp600jt/bulan

Kenapa resign setelah 18 bulan? Ekspektasi gaji?

Budi Santoso

8/10

Metrik kuat, background enterprise marketing

ROI metrics jelas di setiap campaign; manage 2 direct reports; expert Marketo

Mostly enterprise—bisa adapt ke mid-market?

Rina Patel

7/10

Karir lebih awal tapi trajectory exceptional

Promoted 2x dalam 2 tahun; build demand gen dari nol di startup; portfolio bagus

Pengalaman lebih sedikit—test strategic thinking di interview

Apa yang ini enable: Hiring manager bisa langsung lihat kenapa setiap kandidat ada di sana dan apa yang harus difokuskan. Nggak perlu "just trust me."


Step 7: Iterasi Berdasarkan Hasil Nyata

Track apa yang terjadi untuk improve seiring waktu.

Metrik yang harus di-track:

Metrik

Apa yang Diinformasikan

Target

Waktu screening per posisi

Efisiensimu

<2 jam untuk 100 kandidat

Rate shortlist → Phone screen

Alignment dengan hiring manager

>80%

Rate phone screen → Onsite

Kualitas shortlist

>40%

Rate offer accept

Kualitas proses keseluruhan

>70%

Kualitas source

Dari mana kandidat bagus datang

Varies

Setelah setiap hire, tanyakan:

  1. Lihat siapa yang kamu tolak di first pass—apakah ada yang mirip dengan final hire? (Kalau ya, rubrikmu mungkin terlalu ketat)

  2. Apakah hiring manager menolak siapapun dari shortlist di ronde pertama? Kenapa? (Sesuaikan rubrik)

  3. Apa kesamaan kandidat terbaik? (Tambahkan ke "sinyal kuat")

  4. Dari mana kandidat terbaik datang? (Double down di source tersebut)

Contoh insight: "Kami notice ketiga finalis untuk posisi engineering terakhir punya kontribusi open source, tapi kami belum memberi bobot untuk itu. Menambahkannya sebagai +2 bonus point."


Kesalahan Umum (Dan Cara Menghindarinya)

Kesalahan 1: Memperlakukan job description sebagai rubrik

Job description adalah dokumen marketing. Dirancang untuk menarik kandidat, bukan screening. Persyaratan sebenarnya biasanya lebih simpel.

Fix: Minta hiring manager untuk meranking persyaratan job description sebagai "wajib punya," "sinyal kuat," dan "nilai tambah." Kamu akan menemukan setengahnya adalah nice-to-have.

Kesalahan 2: Screening untuk culture fit dari CV

Kamu tidak bisa menilai culture fit dari CV. Kamu cuma projecting berdasarkan sekolah, perusahaan, atau gaya penulisan—yang memperkenalkan bias.

Fix: Hapus culture fit dari first-pass screening sepenuhnya. Nilai di interview di mana kamu bisa benar-benar mengevaluasinya.

Kesalahan 3: Membiarkan "maybe" menumpuk

Pile "maybe" yang terus bertambah setiap minggu cuma penolakan yang ditunda. Kandidat-kandidat itu deserve keputusan.

Fix: Paksa dirimu untuk memutuskan maybe dalam 48 jam. Kalau masih ragu, itu berarti no.

Kesalahan 4: Mengoptimasi untuk false positives alih-alih false negatives

Kebanyakan rekruter khawatir soal meloloskan kandidat buruk (false positives). Cost yang lebih besar adalah menolak kandidat bagus (false negatives)—kamu nggak akan pernah tahu apa yang terlewat.

Fix: Kalau ragu, loloskan. Phone screen 20 menit itu murah. Kehilangan hire hebat itu mahal.

Kesalahan 5: Tidak mengkomunikasikan penolakan

Kandidat yang nggak pernah dapat kabar memberitahu network mereka. Employer brand-mu menderita.

Fix: Kirim penolakan dalam 2 minggu. Bahkan email template lebih baik dari diam.


Siap Screening Lebih Cepat Tanpa Kerja Manual?

Framework ini works. Tapi bahkan dengan proses sempurna, kamu masih menghabiskan jam-jam untuk first-pass screening yang bisa diotomasi.

Aivident menggunakan AI untuk mencocokkan kandidat dengan persyaratan posisimu, meranking pelamar berdasarkan kecocokan, dan memunculkan kandidat terkuat secara instan. Kamu tetap yang membuat keputusan—tapi kamu mulai dengan shortlist yang lebih cerdas.

Rekruter yang menggunakan Aivident melaporkan:

  • Pengurangan 70% waktu first-pass screening

  • Conversion rate shortlist-to-interview lebih tinggi

  • Lebih sedikit momen "bagaimana kita bisa melewatkan orang ini?"

Lihat cara kerja Aivident →


FAQ

Q: Bagaimana kalau hiring manager terus mengubah persyaratan di tengah pencarian?

A: Ini umum dan frustrating. Push back dengan menunjukkan data: "Kita sudah screening 150 kandidat berdasarkan persyaratan awal dan punya 8 yang kuat. Kalau kita ubah persyaratan sekarang, kita mulai dari awal." Kalau mereka tetap memaksa, dapatkan persyaratan baru secara tertulis dan sesuaikan rubrik—tapi dokumentasikan bahwa timeline akan mundur.

Q: Bagaimana cara screening untuk posisi yang nggak aku pahami secara teknis?

A: Partner dengan seseorang yang paham. Untuk posisi teknis, minta engineer menghabiskan 30 menit mengajarimu apa yang harus dicari dan apa yang BS. Tanyakan: "Kalau kamu lihat dua CV ini, mana yang akan kamu interview duluan? Kenapa?" Jawaban mereka jadi bagian dari rubrikmu.

Q: Haruskah aku screening CV sesuai urutan masuk?

A: Tidak harus. Beberapa rekruter screening yang terbaru dulu (pelamar paling recent masih aktif mencari). Yang lain mengacak untuk mengurangi bias. Hindari urutan terlama dulu—kandidat itu sudah menunggu paling lama dan mungkin sudah menerima offer lain.

Q: Bagaimana menangani referral internal saat screening?

A: Referral tetap harus melalui rubrikmu, tapi kamu bisa menambah +1 atau +2 bonus untuk referral kuat. Jangan auto-advance referral—itu merusak prosesmu dan memfrustasikan kandidat yang melamar langsung.

Q: Berapa ukuran shortlist yang tepat?

A: Untuk kebanyakan posisi, 10-15% dari pelamar atau 8-12 kandidat, mana yang lebih kecil. Lebih dari 15 phone screen untuk satu posisi menunjukkan top-of-funnel-mu terlalu lebar atau rubrikmu tidak cukup selektif.